Senin, 04 Desember 2017

Goes to Mini Konser SAI Meruyung [Part 2]

Oke yorobun.... comeback to our stories....about curhatan mini konser... 
Kalau kemarin ceritanya dengan berbagai teori, sekarang saya mau cerita proses nya aja deh.... Persembahan 'Blood, Sweat, and Tears' ala SD5 Peucang Cibom.

Nah, biar agak enakan dikit, saya ceritainnya per-kelompok aja ya... 

Tim Penullis Naskah
Sarah dan Asya mengumpulkan ide dari teman-teman kelasnya dan kemudian menyeleksinya. Mereka membuat naskah sampai benar-benar ok dan siap edar itu sekitar 2 pekan, didampingi oleh Bu Meta. Awalnya  mereka membuat kerangka cerita lalu melanjutkannya sampai detail percakapan dan deskripsi latar cerita. Tim penulis naskah sempat mengalami writing block. Mereka berdua bingung harus nulis apa lagi. Dengan cerita yang begitu luas, mereka berusaha mengatur cerita hingga bisa berdurasi 15 menit saat pementasan. Turut mengarahkan cerita, Sarah dan Asya juga ikut rekaman sebagai narrator di drama musical SD5 PeCi.

Tim Komposer
Azaela, Dylan, dan Fakhri itu suka bikin lagu dan nyanyi-nyanyi sendiri, walau jarang keliatan tapi berdasarkan pengakuan salah satu dari mereka, “kalo dirumah lagi sendiri aku suka nyanyi dan bikin lagu sendiri”. Dan hobi mereka lumayan nyambung lah dengan tugas mereka disini, yaitu memilihkan lagu yang akan dipentaskan saat mini konser. 
Di setiap scene naskah, mereka menuliskan lagu/suara apa yang cocok untuk menggambarkan suasana. Sampai bunyi kokok ayam dan bunyi hp pun disampaikan dengan rinci oleh mereka. Tim ini didampingi oleh Bu Sarah. Kalo fasilnya ini belum ok ngasih efek suara di file latihan mereka, mereka akan protes, “Bu, ini kurang lama suaranya.” “Bu, ini suaranya gak kedengeran” “Bu, suara HPnya mana?”… Ya… alhasil fasilnya cuma bisa elus dada. Meskipun kalo udah mentok gitu, ya gitu aja. *curhat*terbatas durasi*

Tim Koreografer
Tim yang terdiri dari Rofiah dan Zuhair ini, sudah membuat gerakan koreografi sebelum lagu hasil studio rilis. Dengan bermodalkan rekaman suara seadanya, mereka membuat gerakan yang pas untuk lagu Cuaca dan Iklim serta lagu Balon udara. Mereka berdua juga mengajarkan gerakan itu kepada teman-temannya bersama dengan Bu Sarah. Zuhair ini, meskipun sempet ogah-ogahan tampil didepan teman-temannya, tapi dia kalo udah bikin gerakan semangat banget deh.
Dan pada akhirnya, untuk meramaikan panggung… tim koreografer, tim komposer dan tim penulis naskah yang saat itu tugasnya sudah selesai, menjadi dancer, bersama para aktor dan aktris lainnya.

Tim Properti dan Penata Panggung
Dua tim ini tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling berkesinambungan. Tim properti bertugas membuat properti yang pas sesuai dengan kebutuhan panggung per-scene-nya. Tim penata panggung tugasnya adalah menata properti yang sudah dibuat sesuai kebutuhan panggung per-scene-nya. Saling berkesinambungan bukan? Tidak jarang, tim penata panggung membantu tim properti untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Maka dari itu, tim yang didampingi oleh Pak Jundi ini tidak bisa terpisahkan. Kecuali dalam beberapa latihan, Iky, Rizky, Nafi, Azzam, dan Rafi Nur sebagai penata panggung akan ikut mengamati kondisi panggung, menentukan peletakan properti. Selanjutnya mereka akan menginformasikan kepada tim properti, apa-apa saja yang perlu dibuat, dan diperlukan berapa banyak. Sedangkan Hamizan, Nafis, Sulthan, Farras, dan Hilwa sebagai tim properti akan fokus membuat dan mendesain propertinya.
Walaupun seiring berjalannya waktu, semua tim ikutan juga membantu pengerjaan properti yang lumayan banyak itu.

Tim Makeup Artist
Biasanya tim ini akan diminati oleh para girls. Namun, berbeda dengan di SD5 Peucang-Cibom ini. Bahkan fasil pendampingnya pun Pak Fachri (bapak-bapak nih, keren kan). Sebagai tim makeup, Uta, Najla, Aragorn, Fawwaz, dan Haidar bertugas untuk memilihkan kostum untuk para aktor/aktris dan menyediakannya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, nama tim ini lebih cocok dengan nama Tim Kostum, tapi mereka lebih suka dengan nama Makeup artist. Mungkin lebih menjual kali ya…. Mereka memilihkan dan menyocokkan kostum sesuai dengan scene yang ada pada naskah. Tugasnya memang tidak membutuhkan waktu lama sih. Maka dari itu, setelah selesai dengan tugasnya, mereka ikut membantu tim properti (juga).

Sutradara
Anak ajaib yang satu ini (bc: Rakha) berani-beraninya jadi sutradara. Hehehe…. Apa sih tugas dia selama ini? Dengan bimbingan Pak Fachri, Rakha bertugas memantau, memimpin rapat, mengarahkan dan memberi masukan. Meskipun di setiap gerak-geriknya selalu nanya “abis ini apa pak?”, “ini gimana pak?” tapi disanalah terlihat sosok leader yang selalu ingin belajar. Kalau gak tau, ya nanya. Intinya mah gitu. Sutradara ini kadang rangkap jadi properti, jadi penata panggung, jadi tim make up, jadi penulis naskah, kadang nimbrung juga pas latihan aktor/aktris dan koreografi. Dia menclok dimana-mana.
Kadang pas latihan panggung, dia ikut megangin properti di atas panggung. Sampai saya tuh suka gemes, “Ka, kamu kan tugasnya ngatur mereka di belakang panggung, ngapain ikutan naik panggung….?” Dan dia cuma nyengir aja.
Walaupun ini anak keliatan cuek, tapi pas gladi dan pementasan, dia beneran keliatan banget kepemimpinannya sebagai sutradara. Dia dengan sibuknya mengatur teman-temannya. Kapan masuk, kapan keluar, apa yang harus temannya lakukan di depan dan di belakang panggung.
Sampai salah seorang fasil nanya sama saya, “Itu Rakha sibuk bener bu, memangnya tugasnya apa sih?”. “Dia kan sutradara bu, emang begitu dia kerjaannya.” Dan fasil tersebut kagum. “Oh dia sutradara… pantes aja…” katanya gitu.
Gak sedikit anak yang kena semprot bapak sutradara yang satu ini. Sampai dia ngadu sama fasilitatornya. “Pusing Pak ngurusin mereka. Pada susah diatur…” Kita yang jadi fasilnya cuma bisa senyum-senyum aja.  Kan… gitu tuh aslinya temen-temen kamu… *ini ngomongnya dalem hati aja, gak bilang-bilang sama dia, padahal dia juga kadang suka susah diatur* Ketawa jahat* guru macam apa kamu yu*

Tim Aktor/Aktris
Ini nih, tim yang paling dikenal sejagat raya. Secara siiiih, Mutia, Yusuf, Rara, Nailah, Dylan, Keyza, & Zahra ini, banyak keliatan di atas panggung. Maisha, Nadiyah, dan Khoulah apalagi, karena mereka adalah pemeran utama di drama musikal punyanya SD 5 Peucang Cibom. Yang memilih mereka menjadi pemeran utama tentu saja sang penulis naskah. Tadinya, Nailah dipilih sebagai pemeran utama, tapi karena satu dan lain hal Nailah akhirnya digantikan oleh Nadiyah.
Setelah 2 pekan menunggu naskah yang fiks. Tim aktor/aktris yang tadinya hanya latihan koreo saja, mulai melakukan latihan baca naskah ditemani oleh Bu Meta. Setelah itu mereka take suara untuk di edit dalam file suara latihan, daaan file inilah yang menjadi patokan latihan selanjutnya.

***

Tidak hanya sekedar drama di pementasan. Dalam prosesnya pun terdapat banyak drama.
Jika dicermati di susunan crew drama musical SD 5 Peucang-Cibom, nama Dylan tertulis dua kali. Apakah ada 2 Dylan?
Tidak, dia adalah Dylan ku yang satu. *loh*
Jadi, mulanya, Dylan memiliki posisi sebagai komposer, sedangkan posisi aktor ‘pinguin’ sesungguhnya adalah Farras. Namun, selama proses berlangsung, Farras sering tidak ikut sesi latihan karena kesehatannya yang kurang baik. Akhirnya melalui keputusan kelas, Farras digantikan Dylan karena Dylan sering  menggantikan posisi Farras saat latihan koreo.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di H-1Minggu pementasan. Ini menjadi drama yang membuat teman-teman plus fasilitatornya bingung. Dimana aktris utama (Nadiyah) sakit, sehingga mengharuskannya istirahat dirumah selama satu pekan. Sutradara bingung harus bagaimana. Setelah melakukan rapat akhirnya kami memutuskan, jika saat gladi bersih (hari jumat, H-2 konser) Nadiyah tidak ikut, maka posisinya akan fix digantikan oleh Rofiah (tim koreo yang selalu menggantikan Nadiyah saat latihan).

Atas kehendak Allah, di hari Jumat, meskipun telat, Nadiyah pun masuk sekolah. Saya sempat mendapat curhatan mama nya kalau Nadiyah gamau masuk sekolah karena malu. Saat itu saya bilang, ‘Kesekolah aja bun sekarang. Mau gladi kotor. Biar bisa latihan dulu. Kalau datangnya siang kasian Nadiyahnya. Karena selama tidak masuk banyak perubahan. Sekalian adaptasi panggung biar gak bingung. Sd5 tampil terakhir, jadi kalau mau latihan dulu masih sempat.’

Sebenarnya saya ngetik kasian Nadiyahnya, itu dalam arti yang sebenarnya. Saya ngerasa sedih aja gitu, kalau dia hari itu gak masuk, kesempatannya sebagai pemeran utama akan diambil alih, sesuai kesepakatan kelas. Latihan dan rekaman yang selama berminggu-minggu dia lakukan akan beralih pada orang lain. Gimana coba perasaannya dia. Makanya saya gak berani bilang sama mamanya karena khawatir Nadiyah jadi sedih dan down.

Dan taukah kalian.... dibalik semua itu, ada sosok Rofiah yang membuat saya merasa lega. Meskipun dia selalu menggantikan Nadiyah secara all out dalam setiap latihan, namun dia tidak pernah merasa mengambil alih. Dia memahami posisinya sebagai pengganti. Rofiah selalu menanyakan dan memastikan, “Nanti Nadiyah tetep jadi pemeran utamanya kan Bu?” Sampai besoknya mau gladi bersih, dia masih nanya “Bu, aku tetep bawa properti kutub? Nanti kalau Nadiyah masuk aku gaperlu bawa kostum kan?” Saya saat itu hanya bisa bilang, “Iya bawa aja, buat jaga-jaga. Nanti kalau Nadiyah masuk, kita balik lagi ke posisi sebelumnya.” Tanpa ada rasa kecewa, dia fine-fine aja dengan semuanya. Saat dia diminta membawa properti yang dibutuhkan pemeran utama, dia pun tetap membawanya.

Di Jumat pagi menjelang siang, Nadiyah datang. Alhamdulillah SD 5 belum kebagian tampil di gladi kotor, jadi dia sempat mengamati dan mempelajari bagian mana yang berubah. Dan siangnya, saat latihan gladi bersih di gedung pementasan, Nadiyah sudah bisa mengikuti ritme perubahannya.

Maasyaallah… mereka benar-benar luar biasa.

Dalam setiap proses pembelajaran, setiap latihan dan setiap koordinasi tim, disana kami (fasilitator, bahkan teman-temannya) dapat melihat bagaimana kinerja setiap anak, kontribusi yang diberikan, kerjasama, emosi, pemecahan masalah, solusi spontan maupun yang sudah dipikirkan matang, semua tergambarkan dengan jelas.

Situasi, kondisi, dan perubahan yang dinamis terkadang perlu banyak penyesuaian yang tidak instan. Kadang saya suka kesel, greget, sama anak-anak yang ‘terlalu santai’ dengan ritme yang sudah naik dan perlu gerak cepat. Ada saja satu dua anak yang gak peka sama temannya, dengan kondisi lapangan, dan masih sibuk dengan egonya sendiri.

Pernah pada suatu ketika, saat latihan bersama berlangsung (semua tim latihan panggung), ada segelintir anak yang asik dengan dunianya sendiri. Semua ritme latihan berantakan dan diluar skenario yang dibuat. Saya disitu udah greget tak tertahankan. Sampai-sampai semua kekecewaan itu meledak di akhir kelas, saking sudah tidak tahan dengan segelintir anak-anak ini. Mereka yang berkali-kali melanggar kesepakatan, bermain-main ketika semua teman-temannya fokus dan menunggu giliran, pencilan-pencilan ini malah asik bercanda diwaktu yang tidak seharusnya.
Tangis, kesal, kecewa, dan sedih menyatu jadi satu. Kami sebagai fasilitator selalu menekankan bahwa setiap anak memiliki peran yang penting. Bahkan jika dia bertugas hanya sebagai pembawa properti, perannya sangat penting untuk keberhasilan pementasan drama musikal ini. Karena itu, semua gerik akan mempengaruhi gerak yang lain. Jika dia tidak melakukan tanggungjawabnya dengan benar, maka semua jadi berantakan.
Setelah ledakan big bang itu terjadi, disitulah terlihat ada titik terang. Dari titik itu, mereka mulai menghargai apapun posisi teman-temannya, mengingatkan apabila ada yang ‘keluar jalur’, fokus pada tanggungjawabnya dan care pada teman-temannya.
Setiap gladi kotor dan gladi bersih, evaluasi kesalahan makin berkurang. Sampai pada saat pementasan. Saya yang berdiri di meja operator, dan tidak bisa melihat riweuhnya mereka di belakang panggung. Dapat menikmati darah, keringat, dan air mata selama proyek ini berlangsung. Bahagia dan bangga melihat penampilan mereka di panggung konser Senandung Alam SAI Meruyung.



Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah….

Tidak ada komentar:

Posting Komentar