Sabtu, 22 Desember 2018

It's Just Drama

Assalamu’alaikum Yorobuuuun~
Its long... long... time no post in here...
Gimana? Merindukan tulisan ku? Sepertinya tidak kkkkkk...
Apakabar semua? Semoga sehat dan bahagia selalu ya... Aamiin...
***
OK. First of all, i’ll would like to say thankyou for you~ yang masih bersedia mengunjungi blog berdebu ini. Selanjutnya semoga kalian bisa menikmati apa yang akan saya ceritakan dibawah.
***
Hm... mungkin kalian sempat bertanya, “Kok ni orang udah jarang nge-blog lagi? Apa karena belum bisa mengimbangi tulisan dipostingan sebelumnya?” “Atau gak punya konten berbobot untuk dia tampilkan?”
Ya... mungkin itu lah salah satunya... salah lainnya ya karena kondisi saya yang sok sibuk ngurusin orang, padahal belum tentu juga tu orang pengen kurus J
And for your information ya gaes... Belakangan, saya memang agak males berinteraksi dengan my bebilup (baca: leptop saya) karena sekarang dia harus nyolok mulu dan suka menyengat alias nyetrum. Mungkin itu pertanda pengen di lem biru—lempar beli yang baru... tapi udah terlanjur sayang dan banyak nyimpen cerita, jadi saya belum sanggup untuk melepas my bebilup kemudian berpindah ke lain leptop.
So, selama saya gak buka my bebilup, saya beralih menulis manual lagi. Bernostalgia dengan diary dan pulpen. Ya, meski tidak rutin setiap hari, minimal bisa mengurangi kegelisahan saya untuk menuangkan cerita dalam tulisan. Sebenernya sebelas dua belas juga sama nulis blog, ya cuma bedanya kalo diary buat konsumsi pribadi, kalo ini kan bisa dibaca banyak orang.
Like... i’m not a good speaker but i want to other people know what i think and what i feel... jadi menulis tuh semacam salah satu obat sendiri buat saya.
Dibalik itu, saya kadang suka heran sendiri juga sih... ya... kaya agak kagok gitu lah kalau nulis dengan patokan atau dengan aturan yang terlalu baku. Meskipun itu bisa saya lakukan, tapi mungkin gak akan se-enjoy saya menulis hal seperti ini. Sesuatu yang dilakukan secara terpaksa memang biasanya gak akan dapat hasil yang maksimal kan? Salahkan si moody nih... nempel mulu, kalau begini caranya bakal berdampak seperti itu terus.
OK. Next kita akan masuk episode yang agak serius nih. Ini tentang beberapa kegelisahan yang ingin saya ungkap. Mungkin agak receh sih, tapi... terlepas dari penting atau enggak, kalian bisa pilih untuk nerusin baca atau abaikan kok. Jangan dipaksain kalau gak kuat. Cekidot~

***

Guys... Sebagian dari kalian mungkin udah tau sekarang saya punya banyak anak... (jangan kaget dulu)... Maksudnya anak ideologis, dalam artian anak yang secara langsung ataupun tidak langsung mendapatkan edukasi dari orangtuanya di sekolah. Nah loh... ngerti gak maksudnya? Kalau gak ngerti jangan guling-guling yak hihiihi.
And yeah.... walaupun bukan anak sendiri, walaupun hanya anak ideologis, ada kekhawatiran tersendiri dengan segala perilaku dan ucapan yang pastinya bakal nempel di kepala mereka sampai waktu yang lama. Dan kelak secara tidak sadar itu semua akan dipertanggungjawabkan. Entah itu di masa dewasanya, atau yang sudah pasti jelas nanti di akhirat.
Sebenarnya saya mencoba untuk terus introspeksi, apa saya sudah pantas menjadi seorang ibu ideologis dari semua anak-anak ini? Karena dalam mendidik, kita saya sadar... segala yang mereka lihat, apa yang mereka dengar, apa yang saya lakukan sedikit banyak akan mempengaruhi sikap mereka.
Saat ada masalah anak, atau komunikasi dan interaksi di sekolah ada yang kurang pas, di situ saya mungkin bisa bersikap biasa saja, bercanda sok asik, atau sesekali saya menjadi diam. Tapi itu semua hanya sandiwara untuk menutupi perasaan yang bergejolak. Itu semua akan berakhir saat jam pulang tiba.
Ketika terduduk sendiri di kamar kadang saya menangis, dan memikirkan itu sampai berlarut, apakah yang saya lakukan itu sudah benar? Apa yang saya lakukan ini akan berdampak baik? Apa semua yang saya lakukan itu akan memberi perubahan? Apa mereka akan menjadi nyaman? Apa, apa, apa dan banyak lagi pertanyaan yang membuat saya khawatir.
Ketika saya mendapati realita tak seindah ekspektasi, ketika saya merasa bagaimana semua ini bisa terjadi... Mungkin ini prosesnya, dan saya harus menikmati segala proses itu, walau dalam perjalannya kadang terasa pahit.  Toh itu semua memang harus dihadapi. Mau melarikan diri kemanapun, masalah tak akan selesai dengan melepaskannya begitu saja.
Seringkali saya ingin menyalahkan oranglain, membandingkan diri dengan keberhasilan mereka , menilai kinerja saya yang seperti tak ada artinya. Jujur saat itu saya terpuruk, sedih, dan merasa tak mudah untuk bangkit. Saya sadar... yang salah bukan mereka, yang keras bukan hati mereka, mungkin hati sayalah yang pincang, mungkin iman sayalah yang rombeng, mungkin kepala saya lah yang terlalu membebani diri dengan hal sepele, yang semestinya tak perlu ditampung. Dan ya.... memang tak pantas saya menyalahkan siapapun kecuali bercermin pada diri saya sendiri.
Saya selalu tak mau diperlakukan ‘begitu’ oleh orang lain, tapi apakah saya mem-‘begitu’-kan orang lain juga? Ketika saya menilai orang seperti itu, apa saya sudah pantas mengatakan itu? Sedangkan saya sendiri tak lebih baik dari mereka. Hal ini kadang membuat saya merasa terbatasi dalam berinteraksi, dengan segala kekhawatiran dan cermin besar yang membentengi diri.
Menghadapi hal ini, saya pikir mungkin lebih ideal jika dapat memecahkannya sendiri. Tetapi nyatanya saya perlu teman untuk bertukar pikiran dan mendapat masukan positif. Alhamdulillah saya masih diberi nikmat berteman dengan orang-orang baik. Mereka yang masih mau dengan murah hati memberikan nasihat dan semangat, serta orang tak terduga yang kemudian mengingatkan saya saat sudah mulai melewati batas.
Ya... dalam kehidupan sosial ini kita gak akan bisa hidup sendiri, pasti ada peran orang lain di sana. Itu semua secara sadar ataupun tidak, akan mempengaruhi kehidupan kita nantinya. Berbagai masukan perlu kita sadari dan hayati juga, selama itu positif insyaallah kedepannya bisa menghadirkan pribadi yang lebih baik.

“Setiap kita punya lintasan lari masing-masing, setiap kita memiliki alas kaki sendiri, setiap kita memiliki tantangan level yang akan dijalani, dan setiap kita memiliki garis finish yang sama di akhir semua ini.”

Apapun prosesnya, apapun ujiannya, apapun yang membuatmu hari ini merasa berat untuk menjalaninya, selalu ingat... Ada yang mengatur itu semua, ada yang bisa membuat kita mudah menjalaninya, ada yang bisa menjawab semua keluh kesah persoalan dunia. Dialah yang menciptakan kita, Dia Yang Maha Segalanya.

“Sesungguhnya bersama kesulitan itu ada kemudahan.”

Itu yang telah Dia janjikan untuk kita, seberat apapun masalah yang sedang dihadapi, percayalah Allah akan memberikan solusinya.

“Jangan bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.”

Allah selalu bersama kita, ya... apapun yang sedang dialami sekarang semoga kedepannya menjadi pembelajaran berharga yang bisa membuat kita semakin dewasa, khususnya saya yang memang need to fix them. Dan semoga segala kekhawatiranku yang bertumpuk itu dapat terselesaikan dan menjadi happy ending.
***

Well... sepertinya tulisan kali ini saya cukupkan sekian. Mohon maaf kalau terlalu lebay dan kebawa perasaan... cerita drama kayak gini emang kadang suka lebay, tapi semoga ada hikmah yang bisa diambil. Dan tulisan ini free untuk dibagikan, kalo kamu merasa tulisan ini bermanfaat. Kalo engga. Ya cukup kamu yang tau lah. Kkkkk
Sudahlah yorobun, sepertinya kalian sudah mulai bosan. Kalau kalian mau ngata-ngatain tulisan di atas, kolom komentar tersedia dibawah sana.
Have a nice day! Jangan lupa bahagia, jangan lupa bersyukur
Ma’assalaamah!!! Wassalam....


Pyong~~~