Senin, 11 Desember 2017

Seperempat Abad yang Telah Pergi

Teruntuk...
Aku, di masa yang akan datang.

Assalamu’alaikum wrwb.

Apa kabar diriku tersayang? Semoga dirimu senantiasa dalam lindungan Allah SWT ya. Aamiin.

Bagaimana dengan hatimu? Masihkah kamu bergelut dengan mood swing yang sungguh membuatmu kacau itu? Haha... semoga emosimu saat ini lebih terkontrol dan semakin stabil.

Tak terasa ya, waktu terus bergulir begitu cepatnya. Sampai rasanya terlalu banyak waktu berharga yang terlewatkan. Wahai diriku, ingatkah kau, dipenghujung usia seperempat abad-mu ini, disaat kau mengetik pesan ini, dirimu sedang disibukkan dengan setumpuk pekerjaan bernama laporan kemajuan siswa dan rapot? Tapi dengan santainya, dirimu, diiringi moodmu yang mudah berubah itu mengabaikan semua tugasnya. Demi segores surat ini.

Duhai diriku tercinta, saat kau menulis tulisan ini, dirimu dan teman-teman Akurasi-mu telah menyelesaikan suatu event yang luar biasa. Push bike charity race. Perlombaan sepeda tanpa pedal pertama kali yang diadakan di SAI Meruyung. Acara yang menurutku begitu wah, dengan berbagai kejutan yang diluar dugaan. Kau tahu, aku merasa sangat bersyukur berada di sini. Di tempat yang membuatmu selalu mendapat ilmu-ilmu bermanfaat dan dikelilingi oleh orang-orang hebat.

Sampai saat ini, kurasa... dirimu masih bisa merasakannya. Rasa sebuah keluarga, yang tumbuh dan besar bersama itu, selalu memberimu bahagia. Walau terkadang sekali-dua kali, ada saja yang membuatmu naik darah. Tapi, ingatlah saat kau terpuruk, mereka ada dan menjadi bagian yang berarti dalam hidupmu. Saat dirimu merasa kosong, ada mereka yang mengisi relung hatimu.

Jika kau sulit mengingatnya, cobalah untuk menerawang suasana sore di tanggal 11/12/2017. Dirimu begitu menikmati rasanya lantunan ayat-ayat Illahi yang saling bersahutan dalam dekapan khataman Qur’an. Di bawah rintik hujan, kau dan keluarga sai meruyung merasakan nikmatnya ifthar bersama, meski sesungguhnya kamu tak melaksanakan shaum sunnah senin. Dihari yang sama, di saat kamu hampir menyelesaikan tulisan ini, kamu mendapatkan begitu banyak doa dari keluarga, sahabat dan anak-anak ideologismu. Rasanya, selama seperempat abad ke belakang ini, aku tak pernah merasakan hal semacam ini. Bahagia yang tak bisa diungkapkan dengan kata. Entah, di masa yang akan datang aku akan mendapat kejutan lain atau tidak. Mungkin hanya dirimu yang bisa menjawabnya.

Wahai diriku yang hebat. Masihkah kamu menyelipkan doa bagi orang-orang yang membuatmu seperti sekarang ini? Semoga kamu masih mengingat, doa ibu dan ayahmu yang tak henti disetiap penghujung sholatnya. Teruslah dirimu mendoakan mereka. Orangtua, guru-guru, adik, saudara, dan teman-temanmu. Karena tanpa mereka, dirimu sekarang ini bukanlah apa-apa.

Dimasa yang akan datang, disaat kamu membaca tulisan ini, mungkin dirimu akan merasa tulisan ini berkesan terlalu kolot dan mengada-ada. Tapi ketahuilah. Ini semua adalah nyata. Ini semua curahan isi hati dari dirimu yang dulu masih sering terbawa arus emosi. Ini semua adalah bagian dari proses pendewasaanmu. Aku berharap, kapanpun, dimanapun, saat dirimu membaca ini.... dirimu sudah menjadi sosok wanita shalihah, dewasa dan istiqomah di jalan Nya.

Duhai diriku, semoga kini dirimu sudah beristighfar dengan benar. Mungkin dirimu masih ingat.... hal-hal tak berguna seringkali mengalihkanmu sehingga tak sedikit dosa-dosa halus menyertainya. Entah bagaimana keadaan dirimu yang sekarang. Semoga dirimu sudah menjauhi hal-hal seperti itu. Jika masih melakukannya, segeralah istighfar dan bertaubat, perbanyaklah dzikir dan berdoa.

Wahai diriku terkasih.... Di usiamu yang menginjak seperempat abad lebih satu tahun ini, namamu masih tercatat di kartu keluarga ayahmu. Kau tahu, semua orang hari ini membuatmu merasa... bahwa pertanyaan ‘kapan nikah?’ itu menjadi sangat menganggu. Ya, kau tentu paham, jika menikah adalah amanah. Menikah adalah ibadah. Tapi layaknya sholat, jika mereka terus bertanya ‘kapan sholat?’ tapi tempat dan alat sholatnya tidak memadai, apalah daya. Ok, kamu sudah mencari tempat dan alat sholat yang memadai, tapi jika tak kunjung menemukannya? Lalu apa yang harusnya aku lakukan unutk membantumu?

Ah sudahlah... mungkin aku yang masih lalai beribadah ini masih belum saatnya menerima amanah itu. Di saat yang paling tepat Allah pasti memberikan amanah itu. Bukan begitu? Jangan tersenyum seperti itu... ini bukan tulisan konyol. Sekarang bahkan aku membayangkan dirimu itu meruntuki tulisan ini saking lucunya. Ya... semoga saja, saat kau membaca tulisan ini, kamu sudah tak sendiri lagi. Aamiin...

Wahai diriku di masa depan.... bukannya aku tak mau menceritakan lagi segala hal yang aku alami di penghujung seperempat abadku ini. Namun rasanya aku harus kembali berkutat dengan rapot dan LKS yang terbengkalai itu. Sudah ya... lain kali, kau boleh membalas suratku ini dengan rasa syukurmu dalam sujud-sujud malammu. Sampai berjumpa lagi....
Wassalam...


Sawangan, 11 Desember 2017
Dari
Dirimu, di penghujung seperempat abadnya.





Senin, 04 Desember 2017

Goes to Mini Konser SAI Meruyung [Part 2]

Oke yorobun.... comeback to our stories....about curhatan mini konser... 
Kalau kemarin ceritanya dengan berbagai teori, sekarang saya mau cerita proses nya aja deh.... Persembahan 'Blood, Sweat, and Tears' ala SD5 Peucang Cibom.

Nah, biar agak enakan dikit, saya ceritainnya per-kelompok aja ya... 

Tim Penullis Naskah
Sarah dan Asya mengumpulkan ide dari teman-teman kelasnya dan kemudian menyeleksinya. Mereka membuat naskah sampai benar-benar ok dan siap edar itu sekitar 2 pekan, didampingi oleh Bu Meta. Awalnya  mereka membuat kerangka cerita lalu melanjutkannya sampai detail percakapan dan deskripsi latar cerita. Tim penulis naskah sempat mengalami writing block. Mereka berdua bingung harus nulis apa lagi. Dengan cerita yang begitu luas, mereka berusaha mengatur cerita hingga bisa berdurasi 15 menit saat pementasan. Turut mengarahkan cerita, Sarah dan Asya juga ikut rekaman sebagai narrator di drama musical SD5 PeCi.

Tim Komposer
Azaela, Dylan, dan Fakhri itu suka bikin lagu dan nyanyi-nyanyi sendiri, walau jarang keliatan tapi berdasarkan pengakuan salah satu dari mereka, “kalo dirumah lagi sendiri aku suka nyanyi dan bikin lagu sendiri”. Dan hobi mereka lumayan nyambung lah dengan tugas mereka disini, yaitu memilihkan lagu yang akan dipentaskan saat mini konser. 
Di setiap scene naskah, mereka menuliskan lagu/suara apa yang cocok untuk menggambarkan suasana. Sampai bunyi kokok ayam dan bunyi hp pun disampaikan dengan rinci oleh mereka. Tim ini didampingi oleh Bu Sarah. Kalo fasilnya ini belum ok ngasih efek suara di file latihan mereka, mereka akan protes, “Bu, ini kurang lama suaranya.” “Bu, ini suaranya gak kedengeran” “Bu, suara HPnya mana?”… Ya… alhasil fasilnya cuma bisa elus dada. Meskipun kalo udah mentok gitu, ya gitu aja. *curhat*terbatas durasi*

Tim Koreografer
Tim yang terdiri dari Rofiah dan Zuhair ini, sudah membuat gerakan koreografi sebelum lagu hasil studio rilis. Dengan bermodalkan rekaman suara seadanya, mereka membuat gerakan yang pas untuk lagu Cuaca dan Iklim serta lagu Balon udara. Mereka berdua juga mengajarkan gerakan itu kepada teman-temannya bersama dengan Bu Sarah. Zuhair ini, meskipun sempet ogah-ogahan tampil didepan teman-temannya, tapi dia kalo udah bikin gerakan semangat banget deh.
Dan pada akhirnya, untuk meramaikan panggung… tim koreografer, tim komposer dan tim penulis naskah yang saat itu tugasnya sudah selesai, menjadi dancer, bersama para aktor dan aktris lainnya.

Tim Properti dan Penata Panggung
Dua tim ini tidak bisa dipisahkan. Karena keduanya saling berkesinambungan. Tim properti bertugas membuat properti yang pas sesuai dengan kebutuhan panggung per-scene-nya. Tim penata panggung tugasnya adalah menata properti yang sudah dibuat sesuai kebutuhan panggung per-scene-nya. Saling berkesinambungan bukan? Tidak jarang, tim penata panggung membantu tim properti untuk menyelesaikan tugas-tugasnya.

Maka dari itu, tim yang didampingi oleh Pak Jundi ini tidak bisa terpisahkan. Kecuali dalam beberapa latihan, Iky, Rizky, Nafi, Azzam, dan Rafi Nur sebagai penata panggung akan ikut mengamati kondisi panggung, menentukan peletakan properti. Selanjutnya mereka akan menginformasikan kepada tim properti, apa-apa saja yang perlu dibuat, dan diperlukan berapa banyak. Sedangkan Hamizan, Nafis, Sulthan, Farras, dan Hilwa sebagai tim properti akan fokus membuat dan mendesain propertinya.
Walaupun seiring berjalannya waktu, semua tim ikutan juga membantu pengerjaan properti yang lumayan banyak itu.

Tim Makeup Artist
Biasanya tim ini akan diminati oleh para girls. Namun, berbeda dengan di SD5 Peucang-Cibom ini. Bahkan fasil pendampingnya pun Pak Fachri (bapak-bapak nih, keren kan). Sebagai tim makeup, Uta, Najla, Aragorn, Fawwaz, dan Haidar bertugas untuk memilihkan kostum untuk para aktor/aktris dan menyediakannya. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, nama tim ini lebih cocok dengan nama Tim Kostum, tapi mereka lebih suka dengan nama Makeup artist. Mungkin lebih menjual kali ya…. Mereka memilihkan dan menyocokkan kostum sesuai dengan scene yang ada pada naskah. Tugasnya memang tidak membutuhkan waktu lama sih. Maka dari itu, setelah selesai dengan tugasnya, mereka ikut membantu tim properti (juga).

Sutradara
Anak ajaib yang satu ini (bc: Rakha) berani-beraninya jadi sutradara. Hehehe…. Apa sih tugas dia selama ini? Dengan bimbingan Pak Fachri, Rakha bertugas memantau, memimpin rapat, mengarahkan dan memberi masukan. Meskipun di setiap gerak-geriknya selalu nanya “abis ini apa pak?”, “ini gimana pak?” tapi disanalah terlihat sosok leader yang selalu ingin belajar. Kalau gak tau, ya nanya. Intinya mah gitu. Sutradara ini kadang rangkap jadi properti, jadi penata panggung, jadi tim make up, jadi penulis naskah, kadang nimbrung juga pas latihan aktor/aktris dan koreografi. Dia menclok dimana-mana.
Kadang pas latihan panggung, dia ikut megangin properti di atas panggung. Sampai saya tuh suka gemes, “Ka, kamu kan tugasnya ngatur mereka di belakang panggung, ngapain ikutan naik panggung….?” Dan dia cuma nyengir aja.
Walaupun ini anak keliatan cuek, tapi pas gladi dan pementasan, dia beneran keliatan banget kepemimpinannya sebagai sutradara. Dia dengan sibuknya mengatur teman-temannya. Kapan masuk, kapan keluar, apa yang harus temannya lakukan di depan dan di belakang panggung.
Sampai salah seorang fasil nanya sama saya, “Itu Rakha sibuk bener bu, memangnya tugasnya apa sih?”. “Dia kan sutradara bu, emang begitu dia kerjaannya.” Dan fasil tersebut kagum. “Oh dia sutradara… pantes aja…” katanya gitu.
Gak sedikit anak yang kena semprot bapak sutradara yang satu ini. Sampai dia ngadu sama fasilitatornya. “Pusing Pak ngurusin mereka. Pada susah diatur…” Kita yang jadi fasilnya cuma bisa senyum-senyum aja.  Kan… gitu tuh aslinya temen-temen kamu… *ini ngomongnya dalem hati aja, gak bilang-bilang sama dia, padahal dia juga kadang suka susah diatur* Ketawa jahat* guru macam apa kamu yu*

Tim Aktor/Aktris
Ini nih, tim yang paling dikenal sejagat raya. Secara siiiih, Mutia, Yusuf, Rara, Nailah, Dylan, Keyza, & Zahra ini, banyak keliatan di atas panggung. Maisha, Nadiyah, dan Khoulah apalagi, karena mereka adalah pemeran utama di drama musikal punyanya SD 5 Peucang Cibom. Yang memilih mereka menjadi pemeran utama tentu saja sang penulis naskah. Tadinya, Nailah dipilih sebagai pemeran utama, tapi karena satu dan lain hal Nailah akhirnya digantikan oleh Nadiyah.
Setelah 2 pekan menunggu naskah yang fiks. Tim aktor/aktris yang tadinya hanya latihan koreo saja, mulai melakukan latihan baca naskah ditemani oleh Bu Meta. Setelah itu mereka take suara untuk di edit dalam file suara latihan, daaan file inilah yang menjadi patokan latihan selanjutnya.

***

Tidak hanya sekedar drama di pementasan. Dalam prosesnya pun terdapat banyak drama.
Jika dicermati di susunan crew drama musical SD 5 Peucang-Cibom, nama Dylan tertulis dua kali. Apakah ada 2 Dylan?
Tidak, dia adalah Dylan ku yang satu. *loh*
Jadi, mulanya, Dylan memiliki posisi sebagai komposer, sedangkan posisi aktor ‘pinguin’ sesungguhnya adalah Farras. Namun, selama proses berlangsung, Farras sering tidak ikut sesi latihan karena kesehatannya yang kurang baik. Akhirnya melalui keputusan kelas, Farras digantikan Dylan karena Dylan sering  menggantikan posisi Farras saat latihan koreo.

Kejadian serupa juga pernah terjadi di H-1Minggu pementasan. Ini menjadi drama yang membuat teman-teman plus fasilitatornya bingung. Dimana aktris utama (Nadiyah) sakit, sehingga mengharuskannya istirahat dirumah selama satu pekan. Sutradara bingung harus bagaimana. Setelah melakukan rapat akhirnya kami memutuskan, jika saat gladi bersih (hari jumat, H-2 konser) Nadiyah tidak ikut, maka posisinya akan fix digantikan oleh Rofiah (tim koreo yang selalu menggantikan Nadiyah saat latihan).

Atas kehendak Allah, di hari Jumat, meskipun telat, Nadiyah pun masuk sekolah. Saya sempat mendapat curhatan mama nya kalau Nadiyah gamau masuk sekolah karena malu. Saat itu saya bilang, ‘Kesekolah aja bun sekarang. Mau gladi kotor. Biar bisa latihan dulu. Kalau datangnya siang kasian Nadiyahnya. Karena selama tidak masuk banyak perubahan. Sekalian adaptasi panggung biar gak bingung. Sd5 tampil terakhir, jadi kalau mau latihan dulu masih sempat.’

Sebenarnya saya ngetik kasian Nadiyahnya, itu dalam arti yang sebenarnya. Saya ngerasa sedih aja gitu, kalau dia hari itu gak masuk, kesempatannya sebagai pemeran utama akan diambil alih, sesuai kesepakatan kelas. Latihan dan rekaman yang selama berminggu-minggu dia lakukan akan beralih pada orang lain. Gimana coba perasaannya dia. Makanya saya gak berani bilang sama mamanya karena khawatir Nadiyah jadi sedih dan down.

Dan taukah kalian.... dibalik semua itu, ada sosok Rofiah yang membuat saya merasa lega. Meskipun dia selalu menggantikan Nadiyah secara all out dalam setiap latihan, namun dia tidak pernah merasa mengambil alih. Dia memahami posisinya sebagai pengganti. Rofiah selalu menanyakan dan memastikan, “Nanti Nadiyah tetep jadi pemeran utamanya kan Bu?” Sampai besoknya mau gladi bersih, dia masih nanya “Bu, aku tetep bawa properti kutub? Nanti kalau Nadiyah masuk aku gaperlu bawa kostum kan?” Saya saat itu hanya bisa bilang, “Iya bawa aja, buat jaga-jaga. Nanti kalau Nadiyah masuk, kita balik lagi ke posisi sebelumnya.” Tanpa ada rasa kecewa, dia fine-fine aja dengan semuanya. Saat dia diminta membawa properti yang dibutuhkan pemeran utama, dia pun tetap membawanya.

Di Jumat pagi menjelang siang, Nadiyah datang. Alhamdulillah SD 5 belum kebagian tampil di gladi kotor, jadi dia sempat mengamati dan mempelajari bagian mana yang berubah. Dan siangnya, saat latihan gladi bersih di gedung pementasan, Nadiyah sudah bisa mengikuti ritme perubahannya.

Maasyaallah… mereka benar-benar luar biasa.

Dalam setiap proses pembelajaran, setiap latihan dan setiap koordinasi tim, disana kami (fasilitator, bahkan teman-temannya) dapat melihat bagaimana kinerja setiap anak, kontribusi yang diberikan, kerjasama, emosi, pemecahan masalah, solusi spontan maupun yang sudah dipikirkan matang, semua tergambarkan dengan jelas.

Situasi, kondisi, dan perubahan yang dinamis terkadang perlu banyak penyesuaian yang tidak instan. Kadang saya suka kesel, greget, sama anak-anak yang ‘terlalu santai’ dengan ritme yang sudah naik dan perlu gerak cepat. Ada saja satu dua anak yang gak peka sama temannya, dengan kondisi lapangan, dan masih sibuk dengan egonya sendiri.

Pernah pada suatu ketika, saat latihan bersama berlangsung (semua tim latihan panggung), ada segelintir anak yang asik dengan dunianya sendiri. Semua ritme latihan berantakan dan diluar skenario yang dibuat. Saya disitu udah greget tak tertahankan. Sampai-sampai semua kekecewaan itu meledak di akhir kelas, saking sudah tidak tahan dengan segelintir anak-anak ini. Mereka yang berkali-kali melanggar kesepakatan, bermain-main ketika semua teman-temannya fokus dan menunggu giliran, pencilan-pencilan ini malah asik bercanda diwaktu yang tidak seharusnya.
Tangis, kesal, kecewa, dan sedih menyatu jadi satu. Kami sebagai fasilitator selalu menekankan bahwa setiap anak memiliki peran yang penting. Bahkan jika dia bertugas hanya sebagai pembawa properti, perannya sangat penting untuk keberhasilan pementasan drama musikal ini. Karena itu, semua gerik akan mempengaruhi gerak yang lain. Jika dia tidak melakukan tanggungjawabnya dengan benar, maka semua jadi berantakan.
Setelah ledakan big bang itu terjadi, disitulah terlihat ada titik terang. Dari titik itu, mereka mulai menghargai apapun posisi teman-temannya, mengingatkan apabila ada yang ‘keluar jalur’, fokus pada tanggungjawabnya dan care pada teman-temannya.
Setiap gladi kotor dan gladi bersih, evaluasi kesalahan makin berkurang. Sampai pada saat pementasan. Saya yang berdiri di meja operator, dan tidak bisa melihat riweuhnya mereka di belakang panggung. Dapat menikmati darah, keringat, dan air mata selama proyek ini berlangsung. Bahagia dan bangga melihat penampilan mereka di panggung konser Senandung Alam SAI Meruyung.



Alhamdulillah...
Alhamdulillah...
Alhamdulillah….

Minggu, 03 Desember 2017

Goes to Mini Konser SAI Meruyung [Part 1]



Project Based Learning (PjBL) merupakan salah satu tools pembelajaran yang mengintegrasikan semua mata pelajaran dalam suatu proyek. Dalam proses pembelajarannya, tak hanya keterampilan berpikir saja yang dapat di asses, namun secara alami akhlak dan leadership yang terlihat pun dapat diasses.

Belajar menggunakan tools PjBL ini lumayan menguras pikiran dan tenaga. Karena didalamnya tak melulu guru yang “memberi” materi, tetapi fasilitator lebih ke “memancing” materi dan ide kritis yang bisa siswa keluarkan. Fasilitator lebih ke “mengarahkan” goals yang akan dicapai. Itu sebabnya, energi yang dikeluarkan pun bisa berkali lipat. Terlebih orang tua yang mendampingi di rumah pun harus siap sedia dengan ‘todongan’ mencari materi pembelajaran atau mencari bahan-bahan untuk membuat proyek.

Menggunakan PjBL sebagai tools tidak bisa dicoba dalam sekali atau dua kali saja. Perlu proses yang panjang, hingga kita merasa klik dengan metode seperti ini. Sebenarnya, kurikulum 2013 yang sempat heboh itu tak jauh beda dengan PjBL. Namun, belum semuanya bisa menyambut dengan baik resolusi dari pemerintah ini. Akhirnya… ya begitu lah ya…

***

Okey…. Comeback to my blog yorobun…. Gak usah terlalu serius gitu lah bacanya. Nyantai aja.
Setelah bergelut dengan segala yang berbau proyek. Akhirnya bisa nyempetin nulis lagi.

Mumpung masih anget nih. Untuk edisi kali ini… Saya mau menceritakan keseruan drama di dalam drama musikal SD5 Peucang-Cibom (PeCi).  Kalau istilah di bahasa Indonesia mah, ini adalah cerita berbingkai *hihihi*
So, gausah lama-lama… langsung baca ae ya guys.

***

Bagi kalian yang nyempetin datang ke mini konser Sekolah Alam Indonesia (SAI) Meruyung yang bertajuk Senandung Alam –Lestari Alamku, Lestari Sekolahku-, dan nyempetin nonton sampai acara selesai. Pasti kalian akan tau betapa kerennya penampilan anak-anak SD5 PeCi. Tapi asal kalian tau, dibalik itu semua tersimpan banyak cerita.

Jadi, seperti yang sudah saya ceritakan di atas, mengenai PjBL. Semua kegiatan kelas akan bersangkutan dengan goals di project ini. Selama 8 pekan kita ngubek-ngubek tentang per-drama musikal-an. Mulai dari membuat driving question1 sampai ke pementasan.
Lalu kalau ngurusin konser terus, kapan belajarnya?
Eits… Tenang… Sabar… Yuk kita ulik dari awal.

***

Mulanya, para fasilitator menyampaikan, apa sih tema pembelajaran dan ‘gong’ dari tema yang akan kita pelajari itu?
Naah… Tema yang akan kita pelajari adalah Iklim dan Cuaca, dan gong proyeknya (selebrasi) adalah mini konser.

Di awal pertemuan, kita coba membuka proyek ini dengan sebuah Entry Event2. Menonton video Iklim dan gejala perubahannya adalah salah satunya. Apa yang terjadi dengan iklim di dunia ini jika pemanasan global secara terus menerus berlangsung? Apa sih cuaca? Apa sih iklim? Sama gak iklim dan cuaca itu?

Kami sebagai fasilitator memberikan kebebasan pada anak-anak untuk mengungkapkan ide yang ada di kepala mereka. Mau seperti apa sih hasil proyek yang akan di berikan kepada peminatnya? Dengan tambahan beberapa pertanyaan tertutup (jawabannya hanya iya/ tidak), fasilitator mencoba mengarahkan proyek mereka ke project title3 -nya. Akhirnya dengan berbagai usulan dari beberapa anak, kami sepakat untuk membuat sebuah mini drama musikal. Kemudian dibuatlah driving question sebagai berikut,
Bagaimana cara menginformasikan iklim dan cuaca kepada komunitas SAI Meruyung dengan membuat drama musikal secara menarik dan unik?

So, mulai dari sanalah semua proyek berawal.

***

Dalam suatu proyek, tentu saja diperlukan seorang pemimpin. Berhubung proyek yang akan dibuat adalah drama musikal, otomatis, kita membutuhkan seorang sutradara. Peran sutradara adalah sebagai leader yang mengatur berlangsungnya drama. Ketika fasilitator menawarkan posisi tersebut, hanya ada satu anak yang mengajukan diri sebagai sutradara. Dia adalah Rakha. Rakha adalah anak yang memiliki vocal dan influence yang tinggi. Perkataannya seringkali diikuti oleh teman-temannya, sehingga untuk posisi ini dia mampu memimpin teman-temannya dengan baik.

Untuk melengkapi hadirnya sutradara, lalu kami juga ingin membentuk tim layaknya drama musikal profesional. Maka dibuatlah audisi untuk mengisi tim penulis naskah, aktor/aktris, make up artist, properti, penata panggung, komposer dan koreografer. Setiap anak diperbolehkan memilih dua posisi yang diminatinya.

Fasilitator memilih dan menentukan posisi yang pas untuk menempatkan mereka sesuai minat yang mereka inginkan. Walaupun setelah melihat penyebaran peserta yang agak jomplang, akhirnya dengan negosiasi, beberapa anak dipindah posisikan. Berikut daftar nama anak beserta posisinya:

Sutradara: 
Rakha

Penulis naskah:
Sarah & Asya

Aktor/Aktris:
Maisha, Nadiyah, Khoulah
Mutia, Nailah, Rara, Zahrah,
Yusuf, Dylan, & Keyza

Koreografer:
Rofiah & Zuhair

Komposer:
Azaela, Dylan, & Fakhri

Properti:
Hamizan, Nafis, Sulthan, Farras, & Hilwa

Penata panggung:
Iky, Rizky, Nafi, Azzam, & Rafi Nur

Make up Artist:
Uta, Najla, Aragorn, Fawwaz, & Haidar

***

Goals dari selebrasi mini konser ini sendiri adalah launching album. Maka, semua anak di challenge untuk menampilkan lagu buatan mereka, di atas panggung. Dalam prosesnya fasilitator mencoba mengenalkan nada dan lirik dasar kepada anak-anak, lalu mereka secara berkelompok membuat lirik dan menyempurnakannya. Setelah mengutak-atik nada dan lirik, fasilitator mengirimkan rekaman suara ke studio untuk diaransemen. Sepekan kemudian, 6 anak yang terseleksi melalui audisi melakukan take vocal di studio. Mereka adalah Maisha, Zahrah, Rara, Zuhair, Yusuf, dan Dylan. 

Jadi, apa setiap hari  yang kami lakukan hanya latihan, mebuat properti menyanyi dan menari saja?

Tentu saja tidak. 

Untuk mengetahui suhu sebagai salah satu unsur cuaca, kita pasti perlu tahu macam alat pengukurnya. Lalu kami belajar cara menghitung dan menentukan beberapa satuan suhu, yakni derajat Celcius, derajat Fahrenheit, derajat Reamur, dan Kelvin. Begitu pula dengan menghitung kelembaban udara, kami pun menggunakan persenan hygrometer untuk mengetahuinya. Ini semua masuk kedalam pelajaran math.

Di pelajaran social, kita perlu tahu dong bagaimana iklim di dunia ini bisa berbeda. Bagaimana pembagian iklim berdasarkan garis lintangnya? Perilaku apa saja yang menyebabkan perubahan iklim? Beberapa gejala alam seperti Elnino dan Lanina, ternyata memiliki dampak pada manusia di bumi, khususnya di Indonesia. Hal ini tentu akan sangat berkaitan juga dengan unsur-unsur cuaca dan iklim. Apa sih yang menyebabkan perubahan iklim selain perilaku manusia? Apa itu pemanasan global dan efek rumah kaca? Point pelajaran science pun masuk dalam pembelajaran ini.

Di sisi lain art dan language sangat terlihat disini. Siswa turut dilibatkan dalam menulis lirik lagu, termasuk pemilihan judul lagu. Mereka juga turut menyumbangkan ide cerita untuk drama musical kelas, yang kemudian disempurnakan oleh tim penulis naskah. Menyanyi, menari dan membuat properti sudah seperti makanan sehari-hari di proyek ini. Setiap siswa juga perlu mengetahui dan bisa mempraktikan bagaimana cara membaca narasi dan dialog dengan intonasi yang jelas dan sesuai.


Bagaimana dengan pelajaran agamanya? Apa yang bisa dipelajari? Tentu saja ada. Dalam QS. Al-A’raf ayat 57 disebutkan beberapa unsur cuaca. Di sini kami mentadaburi arti dan memahami kandungan ayat Illahi yang tersirat di dalamnya, tidak hanya sekedar menghafal saja. Penasaran kan? Coba buka Alquran dan terjemahnya, lihat halaman 157 ayat 57 (QS.Al-A’raf), gampangnya lagi searching di mbah gugel bae. Hehe…
 


***

1 Driving question adalah pertanyaan yang akan mengarahkan segala kegiatan di kelas untuk mencapai goals yang diinginkan dan telah disepakati oleh warga kelas. Biasanya akan di tempel di kelas sebagai display untuk mengingatkan siswa tentang goals dari proyek tsb.
2 Entry event adalah acara pembuka yang sebisa mungkin mengarahkan anak-anak untuk membuat proyek seperti yang terencana dalam project title
3 Project title adalah rencana pembelajaran yang akan dilakukan selama proyek berlangsung


 
***
Nah… biar gak kepanjangan, segitu dulu ya cerita tentang mini konsernya. Curhatnya menyusul di postingan selanjutnya ^_^
See you…