Jumat, 10 Februari 2012

Dari 'Postingan Tetangga' sampai 'Hallyu wave' : Sebuah Opini

Bosan. Benar-benar bikin capek. Saya melihat postingan di sana-sini isinya saling menghujat. Bukan karena apa-apa, namun apa tidak ada kata-kata bagus yang bisa di posting? Tiap ada satu postingan hujatan, yang lain ikut terpancing, yang satu mengejek, yang lainnya tidak mau kalah, malah ikut-ikutan mengejek. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya siapa yang salah? Mari kita tengok beberapa opini-opini yang menggelitik otak saya untuk menuliskannya.
 
Contoh kasus (yang sampai sekarang masih banyak diperdebatkan)...
INDONESIA vs MALAYSIA
 
Ehmmm... Sebelumnya saya minta maaf pada saudara-saudara sekalian jika ada pihak-pihak yang kurang berkenan. Sekali lagi diingatkan bahwa tulisan ini hanya sebuah OPINI (sudah di uppercase, di bold pula).
 
Pertama, masuk ke sudut pandang budaya. Secara historis, Indonesia dan Malaysia itu kan satu rumpun Melayu, tapi masih saja ada yang mengklaim kalau ini milik Indonesia, kalau ini milik Malaysia. Bagaimana tidak, wajar saja kalau ada kesamaan, wong satu rumpun. Jadi masing-masing pihak jangan terlalu egois. Dan jika ada budaya yang benar-benar-benar-benar terbukti keasliannya salah satu pihak, please hargai dan jangan mengklaim mentah-mentah tanpa bukti. Bisa saja muncul budaya baru yang memang terinspirasi dari budaya asal sehingga menjadikannya mirip. Betul tidak?
 
Kedua, tentang bahasa, sebagian besar warga Indonesia bagian barat-tengah masih menggunakan bahasa melayu (ya nggak sih?), ini merupakan hal yang sangat wajar karena sudah menjadi kebiasaan di masyarakat. Masalah bahasa gue, elo, and.... *hahaha*, serta bahasa lainnya juga sebenarnya tidak terlalu perlu dipermasalahkan sih, soalnya sekarang kan era globalisasi, so bahasa bisa bercampur baur, istilah beratnya sih berakulturasi *halah*, mulai dari bahasa Indonesia yang sesuai KBBI atau bahasa slenge’an, bahasa daerah, bahasa asing, secara tidak sadar kita ucapkan dalam waktu bersamaan dengan logat yang berbeda-beda. Menurut saya, tidak ada yang sepenuhnya pure di zaman sekarang mah. Menurut saya lhoh.
 
Ketiga, dari segi makanan dan minuman. Coba check dulu, Indonesia memiliki berapa macam jenis soto, sate, gule, bubur, kue, ataupun makanan yang sama dengan nama yang berbeda dari Sabang sampai Merauke. Tak menutup kemungkinan di Malaysia pun sama, ada makanan dan minuman yang sedikit berbeda tapi namanya sama. Misalkan, ada sate atau langsa yang mungkin dulu nenek moyang kita (orang melayu sebelum jadi bangsa Indo-malay) menciptakan makanan tersebut dan terbawa ke daerah atau tempat masing-masing sehingga cita rasa dan namanya agak mirip atau berbeda (bingung sendiri bacanya, hayoh loh...). Terus kalau soal sayur dan buah, jangan ditanya, karena sama-sama daerah tropis, makanya banyak buah-buahannya sama a.k.a satu spesies.
 
Hmmm. Yang terakhir, apalagi ya? Belum kepikiran :P.
 
Lanjut.. ada lagi nih yang sedang hot-hotnya di Indonesia atau mungkin di seluruh dunia (gak tau deh kalau dunia lain ikutan gak ya?), Hallyu Wave alias Demam Korea Selatan (kayaknya jarang deh yang terkena demam Korea Utara, kecuali yang tertarik dengan nuklir dan komunisnya :P) #plak *peace.
 
Demam ini berasal dari drama-drama Korea kemudian nyerempet-nyerempet ke dunia musik dan lanjut ke entertainment lainnya. Di Indonesia sendiri, (ceritanya curhat) para pencinta Korea ini makin menjamur dan menggila sampai-sampai beberapa komunitas menjadikannya suatu budaya baru, Kpoper’s. (Lepas dari budaya cosplay-nya Jepang, dan beberapa budaya negara lainnya yang suka diadopsi –tanpa disaring-)
 
Coba tengok, dari mulai drama, musik (boyband + girlband), iklan, acara reality show dan quiz, bahkan sampai lifestyle sehari-hari pun kebanyakan sudah terkontaminasi bau korea-koreaan, ya nggak sih? Padahal sebenarnya kita punya style tersendiri yang menurut saya khas dan lebih menarik. Budaya-budaya asli yang dimiliki Indonesia malah dapat menjadi point plus bagi kita kalau mau show up dihadapan dunia. Kendalanya, anak-anak zaman sekarang pengennya yang simple dan modern, so yang tradisional mulai ditinggalkan, contohnya nih ya, kalau di sekolah ada dua pilihan ekskul kesenian antara modern dan tradisional, pasti lebih banyak yang milih modern, ya nggak? (takutnya beda) #abaikan
 
Sebenarnya, cukup dengan mencintai segala keindahan dan potensi yang ada di negeri sendiri, kita bisa lebih maju dari yang lain. Bahkan, Indonesia bisa menjadi negara yang besar, asal kita mau memakai produk sendiri, mengolah barang-barang mentah menjadi barang jadi yang bernilai tinggi, mencabut akar-akar KKN (Korupsi, Kolusi dan Nepotisme), menghargai kreasi anak negeri, membina anak negeri dan memberi apresiasi yang tinggi kepada yang berprestasi.
 
Hadeuh, kok jadi meleber kesana kemari ya? Intinya, pesan yang ingin saya sampaikan adalah kita boleh bangga dengan kreasi (budaya) orang lain, tapi apakah kita tidak bangga akan diri kita sendiri? Kita boleh terinspirasi dari orang lain, tapi dengan meniru (menjiplak, plagiat) apakah yang kita hasilkan akan bertahan lama dan dihargai orang lain?
 
Be Your Self, jadilah diri sendiri, miliki prinsip, jangan mudah terombang ambing oleh keadaan yang ada. Istilahnya, kalau jadi orang plin-plan itu nyeri, gak punya pendirian itu sakit! #dapat dari mana nih kata-kata)
Segitu aja deh, bingung mau menulis apalagi. Kalau mengingat-ingat kejadian seperti ini, jadi malu! Capek deh....
Gini aja deh, untuk menambah dan menyadarkan rasa cinta kita terhadap Indonesia, mau ikut share ah... cekidot...

Sabtu, 04 Februari 2012

Masalah Klasik Hidup di Dunia


Persoalan tentang manusia memang tak akan pernah ada habisnya, masalah demi masalah terus saja bermunculan. Tak sedikit dari kita, umat manusia yang tidak kuat menghadapi masalah sering kali mencari kambing hitam atas masalah yang dihadapinya. Mereka dengan mudahnya menghakimi orang lain tanpa bukti yang jelas, mempermainkan timbangan peradilan sesuka hati, menjatuhkan sesamanya tak peduli itu teman, saudara bahkan orang tuanya sendiri. Mengerikan!

Mari kita tengok sejenak salah satu pemicu rendahnya moral manusia ini. Sedikit bermain teka-teki sepertinya akan menyegarkan kita untuk mengingat sebuah benda yang hampir pasti ada disekeliling kita. Bahkan sangat dekat dengan kita. Benda apakah itu? Cobalah tebak, dia bukanlah benda hidup, tapi dia dapat mengantarkan kita untuk terus melanjutkan hidup. Bentuknya tidaklah besar, tapi nilainya dapat membuat orang menjadi besar. Seringkali untuk mendapatkan benda ini kita harus menguras tenaga dan keringat. Bagaimana? Anda tahu siapa dia?
Ya, betul sekali. Alat transaksi jual beli ini memang dapat membuat orang menjadi gila. Gila akan harkat, martabat yang bersifat duniawi. Kita cek satu per satu alasan dan buktinya: 
  1.  Setiap manusia butuh sandang, pangan, dan papan. Untuk mendapatkan itu semua sudah sangat jarang sekali yang menggunakan sistem barter atau mungkin hasil ladang sendiri, kalaupun mengandalkan hasil ladang tetap tidak akan mencukupi kebutuhan. Sehingga dapat terlihat masyarakat dari zaman ke zaman semakin konsumtif saja.
  2. Lapangan pekerjaan saat ini sangat susah didapatkan, kalaupun ada lapangan pekerjaan yang mudah dan halal, mungkin hasilnya hanya pas-pasan. Kepentingan lainnya baru dapat terpenuhi setelah mengirit seirit-iritnya jatah makan.
  3. Banyak celah untuk menjadi OKD (orang kaya dadakan), tetapi kehalalannya menjadi hal yang sering kali dipertanyakan. Dari sinilah akar permasalahan sosial bermunculan, berbagai bentuk kriminalitas seperti korupsi, kolusi, nepotisme, penculikan, tindakan asusila, penyalahgunaan hukum, dan sejenisnya menjadi mata pencaharian yang dianggap mudah serta menguntungkan.
Kita seolah-olah diperbudak oleh uang. Bohong besar jika seorang manusia tidak membutuhkan uang dalam hidupnya, karena zaman menuntut kita untuk menjadi kaya dan berkecukupan ataupun hanya sekedar untuk menyambung hidup dengan sejahtera. Ada suatu hal yang menarik saat mendengarkan curhatan seorang penjual bakso kepada temannya,

“Emang susah hidup di jaman kayak begini. Orang kalo gak punya uang, gak bakal dihormatin sama yang lain. Makanya banyak anak-anak disekolahin tinggi-tinggi, tujuannya apa? Gak jauh-jauh dari pengen hidup yang lebih layak kan? Ya UUD lah, ujung-ujungnya duit juga. Yah, namanya juga hidup. Gak ada duit mah susah ya kang?”
Mengintip sekelumit percakapan kecil ini, ternyata masih banyak manusia yang berfikir bahwa dengan uang kita akan mendapatkan segalanya. Tetapi jika kita tela’ah kembali, Islam mengajarkan bahwa uang bukanlah segalanya karena dia tidak bisa membeli kebahagiaan dan keimanan seseorang. Dalam konteks ekonomi Islam harta yang kita miliki hanyalah titipan dari Allah swt dan harta yang Allah titipkan kepada kita itu didalamnya terdapat hak orang-orang fakir, miskin, yatim, dll. Maka dari itu kita dituntut untuk memahami bagaimana sebenarnya peran harta dalam ketentuan syara’, di antaranya untuk :[1]
  1. Kesempurnaan ibadah mazhah, seperti shalat memerlukan kain untuk menutup aurat.
  2. Memelihara dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt., karena kefakiran dapat mendekatkan diri kepada kekufuran.
  3. Meneruskan setafet kehidupan, agar tidak meninggalkan generasi lemah.
  4. Menyelaraskan kehidupan dunia dan akhirat
”Tidaklah seorang hamba beriman hingga aku (Rasulullah) menjadi orang yang lebih ia cintai daripada keluarganya, hartanya dan manusia semuanya.” (HR. Bukhori)
Begitulah Islam mengajarkan. Sesungguhnya masalah yang kita terima di dunia ini semata-mata berasal dari Allah, sehingga penyelesaian yang terbaik adalah kita kembalikan semuanya kepada Allah. Harta, uang, memang sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan hidup, tetapi jika kita terlalu mencintainya maka ia akan menjadi masalah besar dalam hidup kita. Akar masalah ini akan senantiasa menjadi akar kesejahteraan manusia jika kita dapat mengelola berlandaskan nilai-nilai Islam serta menjalankannya penuh kesungguhan.

“Dan Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang berjunjung dan yang tidak berjunjung, pohon korma, tanam-tanaman yang bermacam-macam buahnya, zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak sama (rasanya). Makanlah dari buahnya (yang bermacam-macam itu) bila dia berbuah, dan tunaikanlah haknya di hari memetik hasilnya (dengan disedekahkan kepada fakir miskin); dan janganlah kamu berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan.” QS. Al-An’aam (6): 141
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
[1] Prof. DR. H. Racmat Syafee’i, M.A.,  Fiqih Muamalah, Bandung , CV. Pustaka Setia, 2001, hlm. 31