Sabtu, 21 Maret 2020

What I’m thinkin a lot when #dirumahaja


Assalamu’alaikum yorobuun~~

How are you? Semoga selalu dalam keadaan sehat dan bahagia. Aamiin…

Buat kalian yang baca tulisan ini di hp sambil rebahan, denger musik/radio, santai-santai di rumah, nikmatilah, meskipun ada rasa bosan #dirumahaja tapi tetaplah bersyukur, konten ini insya Allah ada isinya. Siap menikmati? Okesip
Allright, hari ini saya akan mengangkat suatu wacana yang mungkin kalian udah bosen buat baca atau denger ceritanya. Saya yakin kalian kayaknya udah tau juga apa yang akan saya tuliskan. Yup’s, it is about COPID SalapanBelas.

Ini himbauan ya guys… Jika kalian sudah enek membaca postingan berbau-bau virus ini, saya sarankan untuk segera meng-close tab / jendela anda, karena tulisan ini jelas akan membahas itu. Tapi  sebelum dipencet tombol x nya, plis skrol sampai akhir, baca bagian akhir aja gpp, karena saya ingin sekali temen-temen baca bagian itu. Jadi kalau ada yang mau baca full ya monggo disimak~

***

Ok guys, sebenarnya saya udah pengen nulis ini dari lama, cuma kok kayanya belom sempet-sempet gitu. Alhamdulillah sekarang saya ada kesempatan. Nah, seperti yang kita semua tau, sekarang wabah korona ini lagi fenomenal banget di dunia. Apalagi akhir-akhir ini Indonesia digegerkan dengan penyebarannya yang fantastis, sampai rupiah pun anjloknya fantastis. Well, sedikit make sense juga sih. Karena mau bagaimana pun dampak  virus ini udah level global, apalagi di negara +62 santuy penuh drama perpolitikan, wajar lah si rupiah merana.

Frist of all, saya mau sedikit spoiler tentang apa aja yang akan dibahas ditulisan ini. Poinnya cuma ada 4 sih, pertama tentang kondisi korona saat ini, kedua kebijakan pemerintah, ketiga pandangan saya secara umum, keempat what should we do?

Baiklah, kita langsung  masuk poin pertama yaitu, “kondisi korona sekarang, apa kabar?”
Jadi gini, penyebaran virus Copid 19 di Indonesia saat ini peningkatannya melonjak drastis. Dalam 2 pekan terakhir, kasus pasien yang dinyatakan positif nyaris mencapai angka 400 jiwa, dan yang meninggal pun sudah mencapai 30 orang lebih. Ini cukup mencengangkan. Di negara asal munculnya virus ini, jumlah korbannya kian menurun dan banyak juga pasien yang dinyatakan sembuh. Bahkan, berita gembiranya mereka sudah menemukan vaksin virus ini (dan 5000pc langsung dibooking sama +62). Negara tetangga China sendiri seperti Korea & Jepang, juga sudah mulai menurun penyebarannya (jika dibandingkan dengan pekan sebelum-sebelumnya). Meski begitu, di berbagai belahan negara di dunia, jumlah jiwa yang terjangkit terus bertambah, terutama di Benua Eropa.

Beberapa negara sudah memberlakukan lock down nasional, termasuk negara tetangga kita Malaysia dan Singapura. Lock down ini dilakukan untuk memperlambat / memotong penyebaran virus. Jadi, aktivitas masyarakat dibatasi, seperti tidak keluar masuk kawasan secara bebas –baik menggunakan kendaraan umum maupun pribadi, lalu mereka dianjurkan untuk melakukan aktivitas di rumah saja, baik itu bekerja, sekolah, dan aktivitas sejenisnya. Selain itu mereka juga disarankan untuk melakukan social distancing (pen-jarak-an), artinya membatasi aktivitas berkumpul/mengumpulkan orang dalam jumlah banyak.

Masuk poin ke dua. Kebijakan apa yang sudah pemerintah kita lakukan? Sejauh ini, di Indonesia belum diberlakukan lock down nasional. Paling yang lagi hits sekarang ini adalah pengecekan secara acak. Beberapa daerah yang memiliki pasien positif atau dalam pantauan dan penanganan, diberi himbauan untuk melakukan social distancing (dan beberapa langkah lain yang mirip lock down juga sih sebetulnya). Katanya pemerintah daerah tidak berhak menentukan lock down, hanya atas izin pemerintah pusat saja bolehnya. Jadi sementara ini baru Jakarta yang pemerintah daerahnya memberlakukan lock down area. Karena persebaran korona di Jakarta ini memang yang paling tinggi di Indonesia.

Pemberlakuan lock down memang bukan satu-satu cara untuk memutus rantai penyebaran virus ini. Dari awal datangnya Covid 19 ke Indonesia, pemerintah sudah menyarankan untuk menjaga kesehatan dengan cara melakukan PHBS, yaitu Pola Hidup Bersih dan Sehat. Dan hal ini memang yang paling penting dilakukan. PHBS sampai saat ini masih sangat gencar disosialisasikan. Mengingat banyak warga +62 menganggap kebersihan belum menjadi hal yang penting.

Sepekan terakhir, sekolah dan beberapa tempat kerja sudah mulai memberlakukan kegiatan  School & Work Form Home. Diberlakukannya kegiatan ini sesuai dengan surat putusan Kepala Daerah dan Kemendikbud. Dengan adanya putusan ini membuat para guru memutar otak untuk merancang pembelajaran di rumah agar tetap terlaksana, menarik dan pastinya terpantau.

Baiklah, kita langsung masuk ke poin tiga untuk menyambung pemaparan di atas.
Sebagai seorang guru, biasanya kan saya bisa langsung berinteraksi dengan para murid saat belajar di kelas, lalu kemudian harus dipisahkan dengan jarak dan waktu, di situ saya merasakan apa itu kehampaan & kehilangan. Ruh yang biasa dibangun setiap pagi oleh dzikir pagi bersama anak-anak, kini menyisakan ruang. Berat memang, tapi sebisa mungkin kami tetap melakukan touching pada mereka, meski kami sadari itu belum maksimal.

Di sisi lain, orang tua siswa cukup dibuat kelimpungan dengan tugas-tugas sekolah anaknya. Karena saat ini, mereka tak hanya melakukan kegiatan rumahan yang biasa dilakukan, tapi juga harus meluangkan waktu untuk mendampingi anak-anaknya, apalagi yang memiliki anak lebih dari satu atau mereka yang biasanya bekerja di luar rumah. Tentu ini bukanlah hal yang mudah.
Begitupula dengan anak-anak, yang biasa bebas eksplor di sekolah, kini hanya berdiam diri di rumah, mengerjakan tugas sendiri, tanpa teman, dan itu membuat mereka bosan.

Kendala yang muncul dari wabah ini memanglah tidak sedikit. Saya sendiri sebagai guru merasa bahwa waktu bekerja di rumah itu menjadi lebih, alias overtime (mungkin ini saya saja ya, tidak perlu digeneralkan). Tidak dapat di pungkiri, karena semua serba online, serba layar, serba gawai –rd. gadget, otomatis itu membuat mata lelah (dari situ saya jadi tau gimana keseharian kerja mimin-mimin onlensop).

Setiap penugasan disetorkan dalam bentuk digital, hal ini tentu perlu pengecekan berkesinambungan. Belum lagi jika ada keluh-kesah dan pertanyaan orang tua, gak mungkin juga kan kita biarin, pasti perlu ada tanggapan. Tapi ada juga sih yang cuek sama tugas anaknya, ngumpulin engga, konfirmasi engga, bahkan kabar keberadaannya aja ya gitu deh, gatau dimana. #maaf curcol.
Ok, kita skip aja ke cerita selanjutnya. Next…

Itu semua serba-serbi dilema yang saya alami. Setiap orang dengan profesi dan kondisi berbeda juga pastinya memiliki kendala masing-masing. Ada yang dengan mudah dapat mengisolasi diri sesuai instruksi, ada juga yang bahkan tidak peduli dengan instruksi tersebut. Bukan, bukan karena tidak ingin, tapi lebih karena keadaan.

Pernah saya mendengar cerita seorang pedagang asongan. “Kalo saya ikutan instruksi disuruh diem di rumah, terus saya dapet uang dari mana? Mau makan gimana?” Terus saya mikir, iya juga ya, sumber penghasilan mereka kan dari sini. Ini adalah sebuah dilema. Di satu sisi dia perlu bekerja untuk makan, di sisi lainnya ia bisa jadi ‘agen’ penyebaran virus, bahkan menjadi korban.

Lain halnya dengan para tenaga medis. Mereka para garda terdepan pelawan wabah penyakit ini. Banyak dari mereka mensosialisasikan pada masyarakat agar #dirumahaja. “Kami bekerja di sini untuk kalian, kalian tetap di rumah untuk kami”. Kurang lebih begitulah kata-katanya. Kalau dipikir-pikir iya juga sih.

Tenaga medis yang sekarang berada di rumah sakit, klinik, dan puskesmas tentu tidak semuanya menangani wabah ini. Tapi jika wabah terus merebak, tenaga medis pun konsentrasinya akan terpecah. Dan ini tentu membutuhkan effort lebih. Melihat foto-foto mereka yang menangani pasien Covid 19 yang sekarang saja saya merasa prihatin. Ditambah dengan kesediaan Alat Pengaman Diri (APD), masker, handsanitizer yang kian langka. Sedih akutuh.

Itulah dilema wabah Covid 19 di negara +62. Mungkin itu juga yang membuat pemerintah pusat berlarut-larut untuk melakukan lock down nasional. Tapi mau sampai kapan? Karena kalau benar pemerintah memutuskan lock down nasional, otomatis para rakyat kecil dan teman-temannya harus mereka “beri makan”. Dan kalau terus berlangsung seperti ini, Menkes bahkan memprediksikan 700.000 orang bisa jadi sudah terdampak korona.

Terus aku harus gimana?

Di saat seperti ini, di saat WHO sudah menyatakan bahwa Covid 19 adalah pendemik global, semua orang harus bisa menganggap dirinya sudah terinveksi virus tersebut. Walaupun pada kenyataannya tidak—terlihat. Tapi kita perlu mengisolasi diri agar penyebarannya terus berkurang. Selalu lakukan PHBS, jaga imunitas tubuh, ikuti instruksi pemerintah dan ijtima ulama. Jangan ngeyel. Apalagi ijtima ulama.

Mungkin bagi sebagian orang, mereka beranggapan, “kan lebih baik di masjid sholatnya, berjamaah, jumatan, kajian, dll. Masa masjid dibiarkan kosong?” okay…. Tarik napas….. hembuskan…. (lakukan 3 kali) Jadi gini loh guys… Sekelas Masjidil Haram dan Nabawi saja, para imam besarnya sudah membatasi beraktivitas disana. Apalah kita, yang fakir ilmu ini. Tinggal ngikut putusan ulama aja ya kok banyak alasannya. Para ulama juga gak mungkin memutuskan suatu perkara tanpa ilmu. Ya kan?

So, lakukan aja yang kita bisa. Semampunya. Kita memang tidak boleh terlalu panik dan parno, tapi kita juga tidak boleh menganggap enteng.

Begitulah teman-teman…. Selalu ada hikmah dalam suatu musibah kan. Penyebaran wabah ini tidak serta-merta terjadi begitu saja, tanpa seizin Allah. Banyak keluhan yang kita alami, tapi coba ambil hal positif yang bisa kita ambil. Dengan belajar/ bekerja di rumah, akan ada ikatan yang lebih kuat antar anggota keluarga. Tak jarang, seorang anak ‘merasa’ bertemu orangtuanya hanya di waktu akhir pekan saja, karena mereka pergi bekerja sebelum anaknya bangun dan pulang setelah anaknya tertidur.

Dengan adanya wabah ini, juga mengingatkan kita akan saudara kita yang ada di Palestina, Suriah, Iraq, Iran, India, Rohingya, China dan belahan bumi lain yang kesehariannya di isolasi. Jadi rasanya gimana? Kita sekarang masih bisa santai di rumah tanpa takut ada roket nyasar, atau tiba-tiba orang-orang dzolim menghancurkan rumah dan menganiaya keluarga kita. Kita masih harus lebih banyak bersyukur daripada mengeluh.

Terakhir… ayo kita hamparkan sajadah, banyak bersimpuh, banyak memohon kepada Dia yang mengizinkan semua ini terjadi. Kita semua punya rencana, tapi yakin aja… Rencana Allah itu yang terbaik. Kita gak tau ada rahasia besar apa di balik merebaknya wabah ini. Semoga kita bisa semakin tunduk dan yakin atas segala ketetapan Allah. Semoga dengan adanya musibah ini, kita semakin dekat dengan Sang Kholiq. Semoga dengan kejadian ini, jiwa-jiwa kita yang dulu pernah mengeras, perlahan menjadi lunak kembali, mata hati kita yang dulu tertutup bisa kian terbuka.

Ok Guys, sekian cerita kegelisahan tentang hal-hal apa aja yang seringkali berkeliaran di otak saya selama #dirumahaja. Semoga tulisan ini bermanfaat. Jaga terus kesehatan kita ya manteman. Galakan PHBS every day- every where- every way. And for the last, lets pray together.

***

Ya Allah, Ya Robbi… kami memohon pada-Mu… lindungi negeri ini dari berbagai macam marabahaya dan bencana, lindungi negeri kami Indonesia, dari wabah penyakit yang mematikan. Ya Rabb.. Engkau yang Maha Pengasih, limpahkan rahmat dan kasih sayang-Mu pada kami semua. Ya Allah Ya Ghofuur… ampunilah segala dosa dan kekhilafan para pemimpin kami, ampuni dan rahmatilah para ulama kami, tunjukkanlah kami jalan yang Engkau ridhoi.
Ya Allah… lindungi saudara-saudara muslim kami yang teraniaya di belahan dunia manapun, kuatkan mereka Ya Qowiiy. Ya Allah… angkatlah segala penyakit yang sedang menimpa kami maupun saudara kami. Jemput kembali wabah virus covid-19 ini ke pangkuan-Mu. Yaa Hayyu Ya Mumiit, Engkau yang menghidupkan dan mematikan semua makhluk di jagat raya ini, jika ada diantara kami yang Engkau panggil kembali, ridhoilah untuk meninggal dalam keadaan husnul khotimah, bergelar syahid di dunia dan akhirat. Jika di antara kami masih Kau izinkan hidup di dunia ini, maka ridhoilah untuk selalu hidup dalam keimanan dan ketaatan kepada-Mu.
Ya Allah hanya pada-Mu saja kami memohon, tiada yang dapat mengabulkannya selain Engkau Ya Mujiib. Ya… Robbal’alamiin.

***

Ok, teman-teman, terimakasih sudah ikut berdoa dan turut mengaminkan, semoga Allah senantiasa mengabulkan doa-doa kita. Aamiin…
Thanks for reading, stay safe, stay healthy, dan… jangan lupa tinggalkan jejak.
Wassalamu’alaikum~ Ma’assalamah~

From_Depok, 210320_with love_@ayugai_sakura

Senin, 13 Januari 2020

Puncak... Puncak... Puncak...! #Eps2


OK Guys... Welcome back to my story...
Di episode sebelumnya, cerita kita sudah sampai di Surya Kencana. Nah, hari ini saya akan lanjutkan kisah selanjutnya. Yaudah, tanpa berlama-lama, cap cip cup cuss...

Day 3! It’s Summit Time!

Saya pertama kali keluar tenda sekitar jam 4-an, dan itu dingiiiiiiin banget. Padahal di dalam tenda alhamdulillah-nya gak terlalu dingin. Yang bikin amazing adalah... sebenarnya permukaan tenda kami tuh ber-es loh walaupun tipis. Tapi langitnya maasyaallah keren, keren banget parah. Cerah, bersih dan bertabur bintang. Pemandangan yang jarang banget ditemukan di perkotaan. Suasana kayak gini yang bikin kangen sama Surken.

Tendaku ber-es

Kalo saya sih malamnya tidur cepet dan cukup nyenyak. Ya karena udah capek sebadan-badan, jadi bablas wae tidurnya. Sampai-sampai, denger cerita apa-apa dari orang tuh, lewat doang. Alhasil badan berhasil ter-recharge dan semangat lagi.

Selesai subuh, kami masak sarapan plus bekal makan siang. Rencananya kan makan siang di jalur, jadi masak yang simpel-simpel aja deh. Alhamdulillah di kelompok saya ada Bu Eha, yang udah expert banget sama per-outdoor-an, termasuk sama outdoor cooking. Insyaallah urusan perut aman lah. Pokoknya kelompok tendaku ini keren-keren. Ada bu dokter cantik yang baik hati dan care, ada juga Wulan yang super sabar dan asik kalo diajak ngobrol.

Persediaan air di Surken ini lumayan terbatas, karena memang sumber air di sana hanya mengandalkan air tadahan hujan. Jadi sempet cemas gitu kan takut gak dapet air, alhasil pagi banget sebelum masak, saya dan Wulan nyoba nyari air di sana. Tempatnya gak begitu jauh sih dari tenda, cuma memang kondisinya tuh cukup mengkhawatirkan, selain airnya dikit, beberapa spot airnya udah tercemar sama sampah. Huhuhu sedih akutuh. Alhamdulillahnya masih dapet air bersih, ya cukup lah buat masak dan bekal minum dijalan nanti.

Air Surken yang minimalis

Setelah memastikan anak bangun, sholat subuh, dan sarapan. Kami langsung bebenah tenda dan repacking barang bawaan. Oiya, dari jam 4 ke jam 5 itu berasa cepet banget. Jam 5 di atas tuh kayak udah jam 6. Udah terang dan itu kalo gak cepet-cepet bangun buat subuhan, bisa kesiangan deh tuh.
Ok, balik lagi ke cerita tadi… Setelah repacking, kami mulai cek-cek kesehatan anak lagi. Buat mastiin, mereka pada bisa lanjut lintas gak nih. So, perlu banget dong cek ulang anak yang kemarin sakit-sakit itu. Alhamdulillah walaupun masih ada yang ‘dirasa’ tapi semuanya masih aman buat lanjut muncak.

Packing... Packing

Sekitar jam 7.30 an,  kami apel pagi. Rasanya menyanyikan Indonesia Raya di Surya Kencana tuh terharu gitu, bangga lah. Dilanjut motivasi dari Bu Endah (kepala SL) dan arahan perjalanan dari Pak Jazuli  sang ketua OTFA SL 2019, makin greget ih. Ditutup dengan do’a, saya bener-bener gak bisa nahan air mata. Bersyukur banget, bisa jadi bagian dari kegiatan ini, bisa merasakan keangungan Allah yang membuat saya tuh bener-bener gak ada apa-apanya gitu.

Apel pagi di Alun-alun Timur Surya Kencana

Jam 8 an lebih, sehabis stretching dan menyiapkan peralatan serta perbekalan, kami mulai jalan menuju puncak Gunung Gede. Pendakian dilakukan secara berkelompok. Kelompok saya ada di tengah rombongan. Ya… lumayan terbantu banget, karena kalo berangkat paling belakang alamat lama nyampenya. Itu aja sebelum jalan anak-anak udah mulai drama lagi. Penyakit pengen pulangnya kambuh lagi.

Setelah saya coba observasi, penyakit ini akan muncul ketika mental anak udah mulai down dan kondisi fisiknya udah lelah. Secara, rumah kan tempat yang aman dan nyaman gitu ya. Jadi, yaaa wajar aja dalam posisi gini mereka pada pengen pulang. Tapi alhamdulillah-nya meskipun ada keluhan-keluhan, mereka tetap berjuang sekuat tenaga biar bisa nyampe puncak.

Saya salut sih ama Caca, dia tuh ketua kelompok yang bisa memotivasi dan jagain teman-temannya. Nada juga kece sih, karena dia kan salah satu yang jalannya cepet, tapi bisa bersabar sama temennya yang memang jalannya gabisa dipaksa cepet. Cunit dan Fasya sih yang menurut saya mantep mah, dengan fisik yang cukup berat buat jalan, tapi mereka tetap berjuang, saling care dan bisa saling mengerti.

Katanya sih, dari Surken ke puncak tuh 30 menitan, paling lama 1 jam lah. Tapi kenyataannya… tengah hari semua rombongan baru bisa sampai di puncak. Emang butuh effort banget sih, apalagi sikonnya memang gabisa dipaksain. Sesampainya di puncak, anak-anak disambut oleh Pak Jazuli, dan Pak Irfan yang memang udah jalan duluan. Di sana, anak-anak disematkan slayer. Menurut saya, momen ini bakal bersejarah banget buat mereka.

Presiden Siswa kita nih Bang Zaki

Ada momen yang bikin salut gitu deh. Kan ada anak yang sempet diprediksi gabisa sampai puncak, tapi mereka berhasil menginjakkan kaki di puncak. Anak itu adalah Falih dan Abyan. Bahkan slayer yang diberikan ke mereka itu adalah slayer yang sebelumnya digunakan Pak Jaz, sebagai penghargaan bagi mereka yang udah berjuang banget banget. PAK mereka juga keren parah sih karena kudu sabar banget pastinya.

Falih dan Abyan selamanya~

Nah, kita di puncak tuh gak bisa lama-lama, karena bau belerangnya menyengat banget. Jadinya, setelah istirahat dan makan siang, kami mulai turun menuju camp selanjutnya yaitu Kandang Badak. Yang saya heran dan cukup terkagum juga. Anak-anak yang biasanya penuh drama itu, sekarang mukanya pada cerah ceria, menyambut turun puncak dengan semangat dan excited banget.

Berhasil lintas Alhamdulillah

Di sini saya sadar, kalo inside merekanya ok, sesakit & secapek apapun, gak bakal mereka rasa. Yang ada, mereka jalan terus sampe lupa PAKnya tertinggal di belakang. Tapi daripada moodnya kacau lagi, saya lepas mereka jalan duluan. Mereka boleh nempel kelompok lain, yang penting mereka gak grasak-grusuk. Saya jalan di belakang menemani anak lain yang agak kesulitan untuk jalan cepet.

Setiap perjalanan memang punya cerita, anak-anak tuh kalo cerita seru dan excited gitu. Lucu sih dengerin ABG curhat. Ada yang cerita tentang keluarga, ada yang cerita hewan peliharaan, ada yang cerita cem-ceman, ya macem-macem deh. Saya cukup terhibur sama mereka, ditambah ada anak yang selalu PD dengan nyanyian-nyanyian komedinya. Hahahah…

Setelah melewati kerikil-kerikil dan turunan yang agak terjal, kira-kira jam 4 sore kami sampai di Kandang Badak. Udah lumayan banyak juga sih yang nyampe di sana. Tim yang di belakang ini, akhirnya sampe barengan Falih. Sebenarnya, dia kalo turun lumayan cepet sih dibandingin pas nanjak. Aura-aura pulang ke rumah itu memang memberikan energi lebih tau buat sebagian besar anak-anak. Warbyasa…

Trek turun dari puncak

Ok next… Semua bersiap sholat (jama’ takhir dzuhr-ashr) dilanjut masak untuk makan malam. Perjalanan hari ini lumayan juga. Walaupun gak seheboh kemarin tapi tetep menguji kesabaran sih. Di Kandang Badak ini tempatnya lebih tertutup sama kanopi pohon, dan yang membahagiakan adalah disini ada toilet dan mushola. Jadi gak perlu balsem lagi kalo kebelet.

Setelah ishoma di malam terakhir kami nge-camp ini,  sempet ada sesi refleksi malam per-kelompok. Saling cerita suka duka selama perjalanan lintas puncak Gunung Gede. Saling memberikan tanggapan antara teman kelompok dan PAKnya. Sedih senang campur aduk disitu. Sampe gak berasa mata udah berkaca-kaca aja. Ternyata kita tuh bisa loh kalo ada keinginan yang kuat. Kalo udah gak kuat, kita tetep kudu maksa dikit, jangan nyerah ditengah jalan. Karena kalo berhenti di tengah jalan, gak nyampe-nyampe kita sama tempat yang dituju. Yah… coba direlate-in lah sama kehidupan nyata kita, bener gitu gak nih?

Saya sih merasa, dengan 3 hari 3 malam yang sudah dilalui ini, kami jadi lumayan nge-bound. Gimana ya nulis dalam kalimat nya. Bingung euy. Ya pokoknya gitu lah. Saya banyak belajar dari mereka, meskipun usia mereka jauh dari saya (tapi gak sejauh bumi dan matahari ya), mereka banyak memberikan peng’alam’an. Pepatah bilang kan, pengalaman adalah guru terbaik. Di kegiatan alam semacam ini lah biasanya karakter orang yang sebenarnya akan terlihat. Gitu cenah.

Setelah sesi curhat-curhatan anak selesai, saya kembali ke tenda, bebersih dan lanjut curhat sama bu dokter dan fasil di dalam tenda kami. Tapi gak lama sih karena badan udah lelah, butuh istirahat segera. Yah… antara sedih dan bahagia, ini adalah malam terakhir nge-camp di acara OTFA SL 2019. Huft…. Yasudahlahya…
***


Day 4. Comeback home~

Last day guys~ beneran berasa cepet banget ih. Perasaan baru kemaren nginep di home stay eh hari ini udah mau balik ke rumah lagi. Satu hal yang gak saya sangka di Kandang Badak ni. Di sini berasa lebih dingin dari Surken. Padahal kan tutupan vegetasinya lebih banyak. Tapi ya sudahlah… nikmatin aja dingin-dinginnya tidur di kaki gunung, kapan lagi kan ya? Hm…

As always, setelah sholat subuh kami siap-siap masak buat sarapan dan makan siang. Menghabiskan semua perbekalan. Sebisa mungkin apa yang sudah dibekal gak balik lagi ke rumah. Alias hari ini kami makan besar. Pokoknya hari ini makan enak, sayur iya, rendang iya, tempe iya, kering kentang juga. Hm…. Mantap kan?

Sambil masak, sambil bebersih, sambil repacking, ya kami ganti-gantian lah biar kelar makan kelar semua. Anak-anak sih pas abis subuh sebagian pada ngumpul di dapur umum buat workshop bikin nasi di nesting, sebagiannya beberes tenda. Pokoknya pagi ini wajah mereka cerah semua lah. Seneng akutuh liatnya.

Selesai semua persiapan dan sarapan, kami berkumpul untuk melaksanakn apel pagi. Di sini ada momen yang bikin haru banget, yaitu penyematan slayer untuk para PAK. Saat penyematan slayer, meskipun ini tuh hal sederhana, tapi membekas gitu. Buat saya sih ini pencapaian banget. Secara gitu kan, ini lintas puncak gunung pertama, bawa anak orang, perjalanannya diselingi drama dan komedi juga, dilengkapi dengan tadabbur alam yang masyaallah keren banget. Perasaan yang saling bercampur gitu loh.

Para patnerku, wahai PAK kece

Allah tuh sekeren itu mengatur itu semua. Padahal yang saya rasakan dalam 3 hari 3 malam ini hanya sebagian kecil dari kehebatan kuasa Allah. Iya kan? Segitu terbawa perasaannya sampe menitikan air mata loh saya tuh. Agak lebay sih sampe nangis-nangisan, depan umum pula ya. Tapi perasaan itu tuh gak bisa ditutupi, mau ditahan-tahan juga tetep aja airmata rembes. Gimana dong. Gapapa sih gak melanggar hukum dan HAM kan? Hehehe…

OK skip… Apel pagi dan stretching pun selesai, kami melanjutkan perjalanan. Kali ini… meskipun ketika di awal kami jalan perkelompok, tapi pas udah lanjut semua boleh jalan dengan siapa saja tanpa berpatokan pada kelompok. Ada baiknya juga sih, jadi kami bisa saling mengenal dengan mereka yang gak sekelompok, dan menurut saya ini seru. Temen jalan saya jadi random banget, apalagi pas jalannya udah gak sama anak kelompok lagi, sama siapa aja gitu juga ok aja.

Btw, diperjalanan ini saya sempet dapet cerita dari beberapa anak musisi terkenal Indonesia gitu. Da mereka mah someah gening, ramah gitu, aku gak nyangka malah kalau mereka tuh anak orang terkenal. Karena pas mereka cerita gitu, ya biasa aja kayak ngobrol sama anak murid yang lainnya (emang maunya gimana? #ya gak gimana-gimana juga sih). Wkwkwk . Rata-rata yang mereka obrolin tuh tentang pengalaman sekolah sama sedikit cerita tentang keluarga.

Semangat pulang

Selain itu, saya juga menemukan hal-hal menarik. Mulai dari ketemu anak SMP IT yang jalan bawa-bawa kresek berisi baju basah, pendaki manca negara, sampai peserta camp cantik “ala-ala”. Pas papasan sama mereka kayak ada rasa pengen ngomong, ‘enaknya jalan gak bawa perlengkapan dan perbekalan seberat ini’. Kalo dipikir lagi… kok jadi kayak gak besyukur gitu ya. Ngiri aja sama orang lain, padahal belum tentu mereka yang gak bawa apa-apa itu juga aman dan nyaman. #dasaraku
Jadi ya, ujung-ujungnya dibawa enak aja jalannya. Saking selownya, pas udah mau nyampe Cibodas, saya jalan sendiri pun ya nyantai aja. Soalnya kalo dipaksa jalan cepet atau banyak mikir aneh-aneh, penyakit kaki udah mulai kumat nih. Ya kan, daripada pulang-pulang ngajoprak, lebih riweuh lagi. Hahahaha…

Oiya baru keingetan…. Di perjalanan pulang ini ada tempat yang memorable banget buat saya. Yaitu pas lewatin air terjun. Emang ada apa? Apa ada yang beda sama air terjun lainnya? Jawabannya… Yups, ada banget!

Bedanya sama air terjun lainnya adalah…. ini airnya panas gaes… dan beruap. Lewat situ tuh bikin saya banyak-banyak dzikir deh. Degdegan. Kalo sampe kepeleset dan jatoh… alamat dah, na’udzubillahi mindzaalik. Hmmm…. Gak ngerti lagi sama karya menakjubkannya Allah ini. Makin-makin aja merasa cuma secuil diantara kebesaran ciptaan-Nya. Allahuakbar!

Melewati air panas

Kembali ke cerita sebelumnya…. Kayaknya saya nyampe Cibodas tuh pas udah ashar deh. Ada rasa gak percaya gitu kalo udah nyampe finish. Di kepala saya malah muncul pertanyaan yang ga membutuhkan jawaban sebenernya. ‘Ini bukan mimpi kan saya udah nyampe Cibodas?’ Mungkin saking masih betahnya di sana kali ya? Hehehe...

Setelah ishoma dan bebersih, kami bersiap pulang ke SAI Cipedak dengan menggunakan tronton. Sekitar jam 8 malam (apa lebih, maaf saya lupa, saking udah capeknya jadi gak inget) kami sampai sekolah. Alhamdulillah….

Sesampainya di sana, kami disambut oleh para orangtua yang sudah berbaris rapi menanti kehadiran Ananda yang telah berjuang di medan OTFA. Suasananya haru gitu, capek yang selama ini dirasa hilang dengan sendirinya. Abis itu makan pempek lagi. Makin terharu aja akutuh. Wkwkwkw #apasih

Dari situ, saya jadi sadar akan sesuatu. Suatu perjalanan akan terasa berkesan ketika dilewati dengan orang yang spesial #eaaa (emang siapa yang spesial? hm…). Ya maksudnya, kalo temen jalannya asik, ya itu bakal jadi memori yang unforgetable kan, kalo jalannya sama orang yang kurang klop, ya… tetep bakal jadi cerita juga sih. Huahaha… Dan yaaaaay…. Perjalanan lintas puncak gunung gede OTFA SL 2019 pun selesai…. Alhamdulillah.

Happy Ending My Pal

***

Nah… gitu gaes ceritanya. Gimana menurut kalian? Seru gak? Apa biasa aja? Pokoknya pengalaman lintas puncak Gunung Gede itu sesuatu—something banget lah buat saya. Belajar untuk menjadi lebih dewasa dan lebih wise itu terkadang muncul saat kita berjalan di alam terbuka, bersama teman perjalanan yang luar biasa. 

Thanks banget buat tim OTFA SL 2019 yang gabisa saya sebutin satu-satu dan buat tim manajemen SAI Meruyung yang udah mengeluarkan nama saya dari kantong ajaib sehingga saya bisa mengalami berbagai hal luar biasa seperti ini.

Buat kalian yang belum pernah muncak, perlu dicoba. Meskipun hanya sekali seumur hidup, coba lah. Lalu rasakan energi yang akan kalian dapat setelahnya.

Terimakasih udah mau baca cerita ini sampai habis. Semoga kalian gak bosan dengan postingan-postingan saya di sini. Mohon maaf bila ada hal-hal unfaedah yang terselip pada cerita di atas. 

Akhirul kalam….
Barakallahu fii kum. Wassalamu’alaikum

See you minna~ Ma’assalamah…. Pyong~~~